6.2.12

Memilih Kuliah, Anak dan Ortu Tak Boleh Egois

Bagi siswa kelas XII (kelas 3) tingkat menengah (SMA/SMK/MA) saat ini menjadi minggu-minggu awal bebas dari pelajaran dan UAN. Tentu perasaan senang, lega dan seterunya menyeruak dalam diri. Paling tidak itu yang dirasakan untuk sementara waktu sambil menunggu pengumuman kelulusan yang rencananya akan diumumkan resmi pada 16 Mei 2011. Tapi hidup tak berhenti di situ bukan? Justru semua baru akan dimulai. Siswa kelas XII yang dalam masa transisi akan menjalani rutinitas berbeda, tidak berangkat sekolah lagi, tidak bertemu teman/guru di ruang kelas, tidak lagi bisa menyapa dan disapa. Yang paling berbeda adalah tidak akan ada lagi kegiatan belajar mengajar, kewajiban mengikuti pelajaran. Memang, semua sudah selesai. Lantas apakah semua memang benar-benar selesai? Tentu tidak.

Salah satu media nasional dalam hasil jajak pendapatnya menunjukkan bahwa mayoritas responden (85%) berniat melanjutkan studi di perguruan tinggi. Namun sebagian lulusan sekolah menengah kejuruan memilih untuk tidak melanjutkan kuliah. Alasannya adalah ketiadaan biaya dan biaya kuliah yang semakin meroket. Untuk itu perlu pemikiran yang matang untuk memilih studi lanjut. Berdasarkan data statistik Perguruan Tinggi (Kemendiknas) lima besar jurusan yang paling diminati pada tahun ajaran 2009/2010 adalah ekonomi menududukiperingkat pertama, disusul oleh teknik/teknologi, kemudian perikanan, peternakan, pertanian. Urutan keempat adalah kodokteran/kesehatan. Dan yang kelima adalah hukum.
Benar apa yang disampaikan Kompas Esktra (edukasi) bahwa “Selepas sekolah menengah atas, siswa akan menapaki tahap terpenting dalam upaya menyiapkan diri untuk menjadi manusia mandiri. Tahap itu adalah sekolah di perguruan tinggi, seiring dengan begitu beragamnya perguruan tinggi yang bisa dipilih, begitu beragam pula jalan yang bisa ditempuh untuk memasukinya, juga begitu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan.” Ungkapan ‘malu bertanya sesat di jalan’ akan sangat berlaku pada kondisi ini. Maka, jangan malu bertanya. Bertanya apa saja pada mereka, semua orang yang pernah mengalami masa-masa ini, hingga mereka bisa sampai pada langkah kehidupan seperti saat ini. Mereka adalah guru-guru, orang tua, orang-orang tidak sukses maupun tidak sukses di bidangnya, kakak-kelas atau alumni di setiap sekolah. Mereka adalah para pendahulu yang pernah mengalami kehidupan, punya pengalaman dalam memilih tingkat pendidikan lebih tinggi. Bertanya dan belajar pada sejarah dari sejarah kehidupan sesorang akan sangat baik dan bermanfaat.
Orang tua tak lagi harus bersikap otoriter terhadap pilihan anak-anaknya. Anak juga tak boleh semaunya menentukan pilihan. Ada jalan tengah yang indah untuk bisa diselaraskan antara orang tua dan anak. Di sisi lain, guru-guru di sekolah juga memiliki banyak informasi yang bisa digali untuk menjadi pertimbangan. Ingat, tak cukup hanya bertanya pada guru BK. Guru mata pelajaran lain juga memiliki banyak info berharga. Mungkin, guru BK akan menjadi tempat labuhan siswa untuk yang terakhir guna konsultasi, selanjutnya membimbing secara teknis menjalani langkah dan tahapan daftar pada perguruan tinggi negeri atau swasta.
Bertanya pada orang lain, termasuk kakak kelas, saudara atau siapa saja yang menggeluti bidang yang menarik akan sangat melebarkan pengetahuan. Bertanya pada ahlinya, pada yang sudah berprofesi akan samakin membuat kaya pengetahuan yang lingkupnya pada tahap dan tataran pengalaman.
Pun perlu kita bertanya pada orang-orang yang gagal menjalani studi di tingkat lanjut, sebab dalam kegagalan seseorang memiliki manfaat sangat berharga. Supaya kegagalan tersebut tidak terjadi pada diri kita, si penanya. Tentu bertanya pada yang sukses juga sangat saya sarankan.
Kalimat bijak mengatakan, semua akan indah pada waktunya. Tentu untuk indah pada waktunya butuh proses dan persipan yang panjang pula. Dalam hal pilihan studi lanjut, mulai saat sekarang anak dan orang tua mulai menggali info dari berbagai sumber. Berdiskusi dengan cara yang indah antar orang tua dan anak kesayangan menjadi pilihan yang sangat disarankan. Sekali lagi, begitu banyak pertimbangan yang harus dipikirkan dalam memilih studi lanjut, mulai dari sekarang agar kelak anak-anak “tak sekadar mejalani” studi di perguruan tinggi.
Maka dalam proses tersebut akan mengarah pada perguruan tinggi mana yang cocok, yang sesuai minat/keinginan, dan dana. Muncullah perguruan tinggi yang menjadi idaman. Pertimbangan untuk memilih pergurun tinggi ada pada fasilitas pendidikan dan sarana pendukung yang baik dalam proses belajar. Kurikulum dan mata kuliah juga menjadi pertimbangan. Lainnya adalah lokasi perguruan tinggi, jauh atau dekat. Letak strategis dengan akses jalan, tranportasi atau fasilitas umum lainnya. Citra dan nama besar universitas perlu juga dipikirkan. Yang terakhir adalah biaya. Biaya menjadi salah satu pokok untuk menentukan pilihan. Selain yang saya sebutkan tadi, tidak munafik orang akan juga memperhatikan prospek dan lapangan kerja ke depannya.
Bagi anak:
Pertimbangkan pilihan studi yang akan diambil. Tentang jurusan, dan diperguruan tinggi mana. Jangan hanya menetapkan satu pilihan. Buat beberapa pilihan alternatif jika yang utama tidak bisa dicapai, ada alternatif lain. Bertanya pada banyak orang menjadi hal wajib, terutama pada mereka yang memiliki bidang kesamaan dengan pilihan. Prospek ke depan dan bagaimananya. Hal itu akan menjadi hal sangat penting. Asal pilih tidak menjadi saran. Kemampuan orang tua dalam hal biaya juga menjadi pemikiran.
Dalam memilih, libatkan hobi, kesukaan, hal yang disenangi, kepandain, kecenderungan dalam bidang pelajaran apa yang paling dikuasai. Hal-hal tersebut perlu dipertimbangkan dan digali dengan serius untuk bisa menemukan jurusan apa yang nantinya kira-kira sesuai dengan pilihan hati, tentu harus mengukur kemampuan. Asal pilih, ‘anut grubyuk’ teman tak akan memberikan hasil optimal. Untuk itu bisa minta bantuan guru-guru sehingga bisa memberikan masukan, tapi tatap saja hasil akhir yang menentukan adalah kalian.
Libatkan orang tua dalam memilih, sebab mereka yang akan menjadi penopang biaya selam kuliah. Tentu orang tua juga harus tau, dan perlu diskusi panjang. Mau menangnya sendiri akan berakibat tak baik dalam hubungan. Bagaimanapun orangtua ingin anaknya hal yang terbaik. Anak juga harus bertanggung jawab atas pilihannya. Kuncinya total dalam mejalani studi, sehingga hasil maksimal dan membawa manfaat untukkehidupan yang akan datang.
Bagi orang tua:
Orang tua perlu berdiskusi dengan keluarga teman untuk membuka cakrawala, tentang potensi anak, kemampuan anak dan prospek kerja di masa yang akan datang. Dengan mengasuh anak sejak kecil, pasti orang tua bisa mengarahkan anak ke mana nanti akan memilih. Kecenderungan anak, tabiat anak, rajin, malasnya anak dalam bidang tertentu bisa menjadi unsur dalam menentukan pilihan. Sekali lagi jalan tengah yang indah akan bisa didapatkan dan akan menghasilkan pilihan yang sangat pas.
Orang tua harus membuka diri pada hal-hal baru dan meng-upgrade wawasaan, peluang kerja dan hal-hal lain yang sudah tidak sama dengan jamannya waktu dulu.
Kebanyakan orang tua dalam mengarahkan pilihan studi anak berpedoman pada hal praktis yaitu gampang dalam bekerja dan mudah cari uang. Maka jika ada yang ngotot dan keinginannya ‘pengen’ dituruti anak dalam hal memilih studi, orang tua tidak sepenuhnya salah. Hanya saja perlu melihat dan bercermin pada kemampuan anak. Melihat nilai minat serta ketertarikan anak. Berilah tanggung jawab pada pilihan sang anak. Sehingga anak-anak akan sangat bersungguh-sungguh atas pilihannya sendiri.
Sekali lagi, dalam menentukan pilihan, anak dan orang tua tak boleh main-main dan asal-asalan. Supaya tidak semakin banyak sarjana yang nganggur tanpa karya. Masih ada beberapa minggu untuk menyiapkan diri dalam memilih sebelum ujian masuk perguruan tinggi digelar pada 31 Mei-1 Juni mendatang.
Untuk mengambil keputusan TIDAK boleh sama-sama egois, harus dengan banyak pertimbangan. Seperti yang kita tahu, masa kuliah berbeda dari masa sekolah. Pada waktu itu, ada masa transisi dari SMA ke anak kuliahan dan pasti akan bertemu dengan berbagai macam orang, dalam masyarakat. Pilihan kalian berpengaruh pada masa depan.
Setelah mendapatkan pilihan yang apa yang yang dituju, kalian siswa kelas XII, perjuangkan itu mulai dari sekarang. Jangan batasi diri kalian dalam mencoba hal baru (kecuali untuk hal negatif). People won’t be able to develop themself if they limit themselves. Terus jadilah yang terdepan. Tak lagi ada “rapatkan barisan satukan jawaban” akan tetapi dituntut untuk lebih mandiri dan berlomba serta berkompetisi dengan teman-teman seperjuangan lainnya.
Maka, benar apa yang ditulis oleh Susanna Tamaro, dalam buku ‘Pergilah Kemana Hati Membawamu’, “Dan kelak, di saat begitu banyak jalan terbentang di hadapanmu dan kau tak tahu jalan mana yang harus kau ambil, janganlah memilih dengan asal saja, tetapi duduklah dan tunggulah sesaat. Tariklah napas dalam-dalam, dengan penuh kepercayaan, seperti saat kau bernapas di hari pertamamu di dunia ini. Jangan biarkan apa pun mengalihkan perhatianmu, tunggulah dan tunggulah lebih lama lagi. Berdiam dirilah, tetap hening, dan dengarkan hatimu. Lalu, ketika hati itu bicara, beranjaklah, dan pergilah ke mana hati membawamu.”
Biodata: Penulis adalah Guru Pengajar di SMAN 2 Bojonegoro dan SMPN 2 Gondang, Sindikat Baca, Blogger Bojonegoro, Sosial Networking Literasi,

3.9.11

Membaut Rekam Jejak Keluarga

Lebaran ini, aku banyak menggunakannya untuk bercerita dan menggali kisah-kisah kearifan lokal yang dilakukana oleh leluhurku. Pak Wek, begitulah aku memanggilnya, beliau adalah kakek dari ibuku, dan juga ayah dari ayah angkatku. Namanya adalah Kasbani.

Aku sangat ingin menuliskan kisah hidupnya dalam rekam jejak kehidupannya selama beliau masih hidup. Ide itu muncul ketika reuni keluarga yang aku disain sejak 3 tahun silam sudah berjalan samapai tahun ke-4. Aku berfikir harus ada yang esensial dari sebuah reuni keluarga. Tentang pemaknaan hidup dan ajaran hidup leluhur yang pernah digagas dan mungkin belum sempat terwujudkan dalam kehidupan Beliau.

Rekam jajak leluhur ini juga bisa menjadi ilmu yang bisa menguatkan para anak turunnya untuk bisa menjalani kehidupan ini. belajar dari keberhasilan dan kegagalan. Sunnguh inilaha ilmu hidup yang leluhurku ajarkan. "Supaya todak hilang, maka menulis adalah pilihannya" begitu kira-kira nasehat Pramudya Ananta Toer dalam karyanya tetralogi Buru.

Selain Pram, Umar Khayam jug amengajarkan itu lewat novel Para Priyayi dan Jalan menikung. Pemikiran ide serta ajaran keluarga supaya tak hilang dan anak turunnya suatu saat supaya masih bisa mengenal leluhur, adalah dengan membuat tulisan tenatang leluhur. Itulah yang dilakukan aoleh oarang-orang besar, para pahlawan.

Tapi aku, adalah anak desa yang mungkin leluhurku tak akan banyak di kenal orang. Ya.. hanya orang kampung saja yang pernah hidup di masa itu, serta keluarga saja. Itu sudah cukup asal nanti samapai turunan yang keberapapun Pak Wek akan tetap di kenang, dikenal dan di warisi pemikirannya dan dedikasinya.

Makanya lebaran ini aku banyak bertanya pada Ayahku. Pak Dhe Koesni aku juga menanykan banyak hal tentang Pak Wek. Pak Dhe Lastus juga memberikan sekilas tentang Pak Wek. Walupun aku belm menulinya tapi aku sudah mendapatkan cerita tentang kehudpan lalu.

Aku tinggal menyiapakan alat dan mewancarai mereka, anak-anak dan cucu dari pak wek tentang pak wek semasa hidupnya dan bagaiaman sikapnya serta apa saja yang pernah diwarikan kepada keluarga. bagaiman pak wek bersikap pada kelurag dan lingkunga. Perjuangan beliau selama menjabat sebagai kamituo (Kapala Dusun).

Pak, Wek. Aku bangga menjadi cucumu. Sebab, banyak poemikiran yang sangat cerdas pada masa itu dan sekarang menjadi penyemangat kami dalam menjalani kehipdupan ini. Aku rindu Padamu Pak Wek.



30.8.11

Berbagi Sebiji Kurma

Aku hanya ingin mencatat semua kejadian hari ini, kejadian yang mungkin bukan apa-apa bagi orang lain, tapi sangat apa-apa bagiku. Mengabadikannya pada sebuah posting blog adalah pilihan. Kau tak perlu merisaukannya. Bila tak suka, tak perlu kau mempersoalkannya. Kejadiannya begini:

Pukul 5 sudah lewat 20 menit, berati saya harus segara bergegas bersiap pergi kemasjid. Sesuai dengan keiunganku yang telah aku niatkan sejak sore tadi.

Segra saja, kharismu biruku melaju ke utara setalah sesaat berhenti untuk mengisi bensin. Dengan peci hitam, sarung hitam, dan baju koko biru muda yang agak gelap, akulangsung ngacir. Sebelumnya di jok sepda moror aku membawa 2 gelas air meneral untuk buka puasa disana.

memasuki komplek masjid Darusalam, aku disapa dengan senyum oleh satpam masjid dan dipersilahkan masuk untuk parkir. leat sevalah selatn dan menyusuri teras sisi selatan masjid menjadi pilihanku sore itu. Itu sore yang tak biasa. Sebab aku tak pernah berjama'ah di masjid untuk Sholat Magrib.

Benar, di terasmasjid bagian depan banyak orang yang duduk dan menunggu puasa. Aku tak tau apa memang setiap hari seperti ini. Aku juga tak tau apa mereka memang sengaja disiutu supay dapat takjil dan buka puasa gratis. Memang ramdahn selalu memberi berkah untuk siapa saja yang mau berbagi dan memberi. Begitupan juga untuk umay yang patut untuk diberi dan menerima mereka juga akan menerima keberkahan Ramadhan.

Langkahku terus saja memasuki masjid, aku hanya melirik saja. melalu teras selatan masjid aku masuk dan menempati shof paling depan. Disana para jamahah sudah berisiap menunggu sholat Magrib tiba dengan cara berdzikir. Kebanyak yang sudah duduk dan menunggu adalah golongan tua. Jama'ah belum begitu banyak. Sangat kontras dengan yang ada di teras masjid.

Akulangsungduduk dan menaruh air minaralku yang aku bawa. Sholat sunnah aku lakukan dan aku bersalaman dengan lelaki yang setangah baya, orangnya kurus kering senyumya mengambang, tak ada guratan kesedihan dimukanya. Dismaping lelaki itulah aku duduk dan berdzikir menunggu bedug tiba.

Bedug tiba, kami serantak berdoa dan mengambi bekal yang dibawa. tentu aku hanya akan minum air mneral. Pikirku setalah ini aku akan langsung makan. biasanya aku juga tak segara makan. jadi aku sudah dengan berbuka hanya dengan air terlebih dahulu.

tiba-tiba lelaki itu menyodorkan buah kurma yang ia bawa. Tak banyak yang ia bawa, aku tau persis di plastik kecil isinya sekitar 3 biji. Ia menyodorkan kepada se biji kurma, dan aku tak bisa menolknya. Dalam hatiku, orang ini baikm dan aku harus meneriman supaya bapak tau ini bisa mendapatkan amal kebaikan dari Allah dengan memberiku buah kurma ini. Sebiji kurma aku makan. Sesaat kemudian lelaki tua ini menyodorkan platik kecil "salap mriki". Aku sangat paham apa yang dimaksukan. Biji kurma yang aku makan di suruh untuk dimauskkan dalam plastik tempat kurma yang ia bawa. Sejurus kemudian aku menghabiskan air minaral, dan lelaki itu minum teh yang ia bawa. Lelaki itu beramalatkan di gang 45, itu aku ketahui setelah usai sholat, pada saat iA berjalan menuju parkiran.

Sungguh, inilah keindahan yang aku dapatkan di ujung Ramdhan, menjelang syawal. Keindahan berbagi, kerelaan memberi.
Pak tua, usai sholat ini akan aku tanyai kau. janjiku dalam hati. Rumahmu mana. Aku akan mengucapkan terima kasih sekali lagi. Siapa tau suatu saat aku bisa membalas atau aku bisa bertemu dengannya di suasan yang berbeda.

Sholat sunnah segara kami jalankan, sesaat sebelum jama'ah magrib dimulai. Imam sholat magrib mengambil trempat. Suara khasnya membuat jamaha berkonsentrasi. baju putih dan peci yang aku sering lihat Imam memimpin sholat Magrib.

Sholat Maghrib selesai, imam langsung memimpin jama'ah bertakbir. Sungguh... aku tak tau apa yang terjadi... untuk kali kedua mataku tak mampu mebendung air mata. buliran-buliran itu menetes membashi pipiku saat sedang mengumandangkan takbir. Aku tak mampu mencegah. hatiku parau, jiwaku tak berdaya. kelebatan bayangan-bayangan kehidupan yang telah berlalu tehapar didepanku bagai cuplikan film yang yang pemainnya adalah aku sendiri. Sungguh mengharukan. Aku hanya pasrah dan bersyukur atas nikmat Allah yang telah diberikan sampai detik ini, selama ini dan yang akan datang. Aku tak mapu menjelaskan, menggambarkan dengan kata-kata di posting ini. Semuanya terjadi dengan sendirinya mengalir. Postingan ini tak berkmasud apa-apa. Saya hanya ingin mencatatnya untuk kemudian aku ingat dan menjadi nasehat untuk diriku sendiri, naehat untuk orang-orang yang aku sayangi. Bahwa, ramadhanharus di kahiri dengan indah. Indah dengan cara kita masing-masing, indah yang tak manyalahi syariat.

Begitulah, aku akan selalu pergi kemana hati membawku. Sore, di ujunng ramdhan ini, hatiku benar-benar membawaku kepadaNYa. (ompra)


30 Agustus 2011, Pukul 21.28 WIB
Rumah Dinas SMAdaBO, berhiaskan suara takbir yang berkumandang

Indahnya Menangis dengan Hati

Pukul 5 sore hampir saja berlalu, usai sholat Ashar, aku memnyalakan PC, untuk mengkatamkan tadarus Al-quran yang tinggal juz terakhir. Segara saja kau lantunkan dengan nada yang santai. Tiba-tiba saja suarku serak dan kelu, air mataku tumpah, dan aku menangis ketika membaca ayat yang ada di juzz Amma.


Sore yang hangat, dengan dengan sinar matahari bulan ramadhan yang tinggal menunggu hitungan menit akan meninggalkan umat. Dalam kesendiran yang tenag di rumah dinas SMAdaBO tiba-tiba air mataku tumapah dengan sendirinya saat melantunkan Ayat suci Al-Quran. Padahal aku tak tak tau apa makna dari ayat yang sedang kubaca. "Allah... Ampuni hamba... dan teguhkan keyakinanku untuk menegakkan ajaranmu dalam hatiku. Berilah kekuatan suapaya aku tetao mampu berjihad di jalanMU."

Kondisi itu tak berapa lama, sebab temanku datang. Pembicaraan kami cair, keinginan mengkatamkan akhirnya tertunda.

Mengakhiri Ramadhan dengan Manis

Mengakhiri ramadhan dengan manis, itulah keinginnanku.


Hari terakhir, yang sebagain orang sudah merayakan lebaran, aku milih untuk menggenapkan puasakumenjadi 30 hari. Ini bukan karena tak beralasan. Sebenarnya, aku ingin dan sudah berniat bulat untuk lebaran hari Selasa, tetapi hatiku, keyakinan, dan keadakan memberikan tanda untuk menggenapakan puasakumenjadi 30 hari. Berbagai artikel berita dan pertimbangan yang aku baca lewat internet.

hari itu, 30 Agustus 2011, tepat hari selasa, aku berjanji pada diriku untuk mengakhiri Puasa dengan sangat indah. tentunya indah menurut penulis. Dengan cara apa. Kuselesaikan semua urusanku. Online FB, Twiter, kaskus, skaype dan semuanya akulakuakn di siang hari. Siang usai Dhuhur aku tidur dengan berbagai rencana dan niat yang kuat untuk melakukan:

1. Jam 4 sore bangun kemudian megktamkan tadarus Al-qur'an bersama komputer kesayangku yang tinggal juz terakhir.
2. jam 5 sore lebih 15 menit aku ingin pergi ke masjid Darusalam untuk ikut sholat Magrib berjama'ah. Selama ini aku tak pernah, sebab sungkan, malu, ketemu orang yang dikenal sebab dikira mencari takjil atau ingin buka puasa gratis, sebab Allah masih memberikan kemampuan Rizki supaya aku membelinya dan kadang mebelikan orang lain . Tapi sore nanti aku akan datang dengan tanpa berniat mendapatkan takjil.
3. Aku ingin bertakbir di masjid Darusalam. Bertakbir di tengah malam, ketika banyak orang begadang di rumah, di kafe atau di temapat nongkrong. Tapi aku ingin merenung dan bersimpuh kepada Allah tentang apa saja yang telah aku kerjakan. Bermunajat, koreksi diri.
4. Esok harinya aku ingin sholat idul fitri di shof paling depan. Mungkin aku harus berangkat sekalian jama'ah Sholat Shubuh.
5. Setalah itu aku akan mudik ke Kuniran, bertemu dengan keluarga besarku. bersimpuh dan memegang erat tangan Ibu bapakku.

Lima hal itulah yang akan sangat membuat saya menjadi indah ketika mengakhiri Ramadhan tahun ini. Indah dimataku, dan semoga indah dimata Alllah. (om pra)




23.8.11

Menjadi Kaya dengan Cara Allah


Judul Buku:
7 Keajaiban Rizki
Penulis:
Ippho “Right” Santosa
Penerbit:
PT. Elekmedia Komputindo -
Cetakan:
ke-17, Mei 2011
Tebal:
192 Halaman
Oleh:
Prawoto




Buku ini memang di tulis dengan pendekatan otak kanan, tetapi orang dengan kecenderungan berfikir otak kiri akan mengiyakan isi buku ini. Membaca buku ini seperti pembaca sedang mendengarkan omongan penulis secara langsung. Kalimatnya pendek dan bahasa yang komunikatif berhasil diciptkana untuk membius pembaca. Ippho Santosa seperti hadir begitu dekat, begitu akrab, ramah, romantis dan humoris dalam buku ini.

Saya yakin, bahkan haqqul yakin bahwa setiap manusia pasti ingin kaya. Ketika berbiaca masalah harta dan kekayaan semua mata akan menjadi “hijau”. Maka saya selalu bertanya pada setiap teman, “Apa kamu kepengen kaya…?”. Ya benar, semua menjawab “Pengen”. Siapapun itu, saya, pembaca resensi ini bahkan penulis buku ini pun pasti pengen kaya. Lantas kalau pengen kaya, ini kitabnya. Itulah yang sering terlontar jika sedang bertemu seorang teman. Sehingga, selalu saya anjurkan untuk membaca buku 7 Keajaiban Rizki. “Sampean (anda) wajib membaca buku ini pokoknya. Jika tidak selamanya sampean akan miskin, dan tidak pernah tau bagaimana supaya menjadi kaya denga cara Allah”

Bagi orang yang kecenderungan berfikir dengan otak kiri, pasti akan menyangkal. Apa mungkin dengan hanya membaca buku ini bisa kaya. Hanya ada 4 kata yang saya gunakan untuk menyanggah pernyataan tersebut. “Baca Dulu Lalu Buktikan.”

Buku ini ditulis dengan sangat gampang dimengerti, disertai dengan joke-joke menarik. Keajaiban lain dari buku ini adalah ia mampu “berbicara” dengan begitu lugas, tidak berbelit-belit, mengalir dan mampu menebak isi kepala setiap pembaca, sehingga setiap sangkaan, argument, bantahan dan pertanyaan yang sifatnya berseberangan atau belum mengiyakan muncul pada pikiran saat itu (saat membaca dan berdialaog dengan isi buku) akan langsung dijawab dibagian lanjutannya. Tidak perlu menunggu lama. Benar-benar pembaca akan di buat senang dengan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang terlintas di benak pembaca. Tak perlu menunggu terlontar dari mulut pembaca, hanya di batin saja, penulis sudah akan tau kemudian menjawabnya beberapa saat pada baris berikutnya.

Kekuatan Buku 7 Kejaiaban Rizki ini terletak pada cara bercerita, penuturan yang sangat logis sehingga pembaca akan disuguhi fakta-faka yang terjadi di sekitar kehidupan sehari-hari, kaitanya dengan 7 kajaiban tersebut. Pembaca akan digiring untuk berfikir atas analogi-analogi yang digunakan sebagai contoh. Penulis mampu meyakinkan pembaca dengan menggunakan analogi-analogi sederhana hingga pembaca kepalanya manggut-manggut.

Tidak perlu berfikir keras untuk bisa mengerti isi buku ini. Kesederhanaan contoh yang digunakan membuat tulisan ini bisa diterima semua kalangan. Sekali lagi, tidak butuh otak yang genius untuk bisa mengerti isi buku ini. Buku ini jauh dari sebuah tulisan yang banyak menggunakan istilah ilmiah yang bisanya susah di mengerti.

Buku ini mampu memberikan paradigma yang beda atas dogma-dogma yang telah kuat mengakar pada pikiran masyarakat Salah satunya adalah konsep iklas. Sedekah itu tidak harus iklas. “Kalo menunggu iklas kapan akan mulai sedekah. Apa kalo tidak iklas tidak akan dibalas. Bagaimana dengan orang non muslim. Apa mereka mengenal istilah iklas.” Kira-kira ada tulisan didalam buku itu yang bunyinya seperti itu. Bahwa iklas itu adalah kerelaan memberikan kapada orang, dan berharap dibalas oleh Allah. Karena ini janji Allah. Sesuai dengan ayat Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari, maka pasti azabKU sangat berat (Qs.14:7) “. Kita berharap kepada Allah, meminta balasan Allah itu boleh dan syah. Maka Allah akan membalsnya dari jalan yang tidak disangka-sangaka.

Pertnyaan dan sanggahan yang muncul, semua terjawab dengan sangat masuk akal. Siapapun itu, bahkan orang yang cenderung menggunakan otak kira (aliran kiri) yang biasanya hanya mengedepankan logika, rasionalitas, analistik juga akan langsung mengiyakan. Apalagi pembaca yang memang sudah berfikir menggunakan otak kanan (aliran kanan)

Para pakar otak meyakini bahwa otak kiri adalah otak rasional, terkait dengan IQ. Otak kiri cenderug realistis, analistik, kuantitatif, aritmatik, serial, linier, terencana, rapi. Sementara otak kanan adalah otak emosiaonal, yang terkait dengan EQ.

Apa saja 7 keajaiban rizki yang begitu menarik perhatian pembaca. 7 Kejaiban itu antara lain:

Sidik Jari Kemenangan
Pembaca ditunjukkan dengan sebuah fakta bahawa setiap manusia itu unik. Unik layaknya sidik jari. Oleh penulis, itu disebut sebagai sidik jari kemenangan. Setiap orang punya cara tersendiri untuk meraih kemenangan. Tetapi pada bab ini penulis kurang detail dalam menjelaskan sidik jari kemenangan. Maksud dan tujuan serta opini yang pengen diciptakan tidak sampai pada pembaca. Yang terjadi adalah kebingungan. Hanya saja ini terjadi pada awal awal. Jangan khawatir, pertahankan minat bacamu sampai masuk keajaiban 2 dan selanjutnya.

Sepasang Bidadari
Hal ini akan membuat mesra pembaca, meningkatkan aroma cinta dalam keluarga khususnya terhadap istri dan ibu kandung. Uraian tentang sepasang bidadari mampu membuat pembaca tersegarkan pengetahuannya tentang doa orang tua yang begitu dahsyat. Perintah yang menyuruh anak untuk berbakti kepada orangtua begitu tegas, keras, dan jelas sekali di dalam al-Qur’an dan hadis. Pengetahuan tentang istri sebagai bidadari ke-2, sepengetahuan peresensi belum banyak dibahas di buku lain. Dibuku ini pembaca akan menemukannya. Saat memiliki keinginan, jika sepasanag bidadari ikut mendoakan , maka keinginan itu akan cepat terwujud. Ibarat orang terbang, doa ibu dan istri akan menjadi sepasang sayap. Bagaimana jika terbang tanpa sayap atau hanya menggunkan satu sayap. Bagaimana supaya sayap-saya itu tercipta, buku ini mengjarkannya.

Golongan Kanan
Bahwa golongan kanan (pemilik otak yang cenderung menggunakan otak kanan) adalah golongan yang mengendalikan dunia. Sebab orang golongan kanan akan lebih kreatif, imajinatif, intuitif, lebih berani menghadapi resiko. Maka kita diajak untuk mengasah otak kanan yang tidak terkira pentingnya. Pada bahasan ini pembaca akan dipaparkan tentang fakta dan usaha bagaimana hal-hal diduni ini dekerjakan dengan cara kanan, dibandingkan dengan jika dikerjakan dengan cara kiri.
Yang sungguh manarik adalah bagaimana proses menikah jika dikerjakan dengan cara kanan dan kiri. Dengan membaca buku ini, siapapun yang belum menikah akan sangat segera ingin menikah dengan cara otak kanan. Yaitu dengan cara kenalan, lamaran, dan akad nikah. Selesai!!. Tak perlu takut belum punya ini dan itu. Agama juga mengajarjkan ini. Sungguh mengerjakan dengan cara kanan akan lebih mudah, menarik dan sesuai dengan ajaran Agama islam.

Simpul Perdagangan
Pada bahasan ini, Ippho mengajarkan pada setiap orang untuk menguasai perdagangan artinya melakukan jual beli. Sebab Nabi kita Muhammad juga pedagang yang handal. Jika mau kaya maka berdaganglah, dan nabi telah memberikan contohnya.

Perisai Langit
Buku ini akan semakin meyakinkan setiap pemabacanya untuk mau bersedekah dengan jumlah yang sangat banyak, rela melaksanakan sholat dhuha ditengah himpitan waktu dan pekerjaan, menikmati sholat tahajud saat sepertiga malam yang kebanyakan dipakai orang lain untuk menarik selimaut terlelap tidur.
Manfaat sedekah sampai dianalogikan dengan hitungan matematika. 10-1 =19. Artinya jika kita memiliki sesuatu yang jumlahnya 10, jika diambil satu untuk disedekahkan, maka Sesutu itu akan menjadi 19. Sebab Allah akan membalas minimal 10 kali lipat dari apa yang kita sedekahkan. Pengetahaun ini akan semakin membuat pemabaca untuk dengan senang hati bersedekah, sebab mengingat Allah akan mengembalikannya lebih. Dan tidak ada cerita, bahwa orang yang gemar sedekah hidupnya miskin.

Pembeda Abadi
Jika pembaca mau mengamalkan maka dia akan mendapat rizki yang berlipat. Maksud dari pembeda abadi adalah kita harus memiliki kekuatan. Dan kekutan itu harus menempal sehingga menjadikan kita berbeda dengan yang lain. Kekuatan itu akan menutupi kekurangan kita. Dalam bahasa marketing kita harus memilki brand image/ciri khas yang menjual. Mencari sesuatu yang kita minita (hobi/potensi diri), yang menyenangkan, mendatangkan uang. Itulah pembeda badi yang harus diciptakan mulai sekarang.

Pelangi Ikhtiar
Pelangi ihtiar ini dihiasi oleh tujuh bias yaitu impian, tindakan, kecepatan, keyakinan, pembelajaran, kepercayaan, dan keiklasan. Jika manusia mau melakukannya pasti dia akan keluar menjadi pemenang. Hal ini akan semakin membuat pembaca melambungkan impian-impian yang dimiliki secara cepat, tanggap dalam beraksi.

7 keajaiban tersebut akan memberikan inspirasi kepada pemabacanya untuk berbuat sesetau dengan cara kanan yaitu dengan pendekatan agama yang ujung-ujung bisa mendatangkan uang secara menyenangkan. Hal ini akan membuat pembaca semakin semangat, bergairah dalam menjalani kehidupan selain itu buku ini akan meningkatkan keyakinan pembaca bahawa setiap orang bisa kaya.

Dalam buku ini Ippho “Right” Santosa sangat tekun membimbing pembaca untuk tidak sekedar membaca tapi juga melakukakan. Buktinya pada setaip akhir pembahasa dari masing-masing keajaiban selalu ada “Sekarang Apa yang Harus Anda Lakukan?” sub pokok bahsan ini sangat membantu pembaca untuk langsung berbuat sestau. Pembaca akan terbimbing, termotivasi, tergerak hatinya untuk melakukan hal yang talah dibaca sebelumnya. Pembaca tidak usah susah-susah meraba-raba/menyimpulkan sendiri tentang apa yang harus dilakukannya setelah membaca setiap babnya.

Banyak buku yang mengajarkan pada kita untuk kaya. Ajarannya adalah jika mau kaya maka bekerjalah atau buku yang hanya memotivasi orang untuk mau bekerja keras. Penekanannya adalah pada skil, peluang pasar, sisi perhitungan, dan marketing. Semuanya berdasarkan cara kerja otak kiri. Sebut saja buku The cashflow quadrant, karya Robert T. Kiyosaki yang begitu terkenal di dunia ini. Untuk jadi kaya, buku ini mengajarkan sesuatu untuk bisa dijadikan aset, berpindah dari quadran kiri ke kanan dengan cara menjadi pebisnis atau penanam investasi. Hal ini memang sudah menggunakan cara kanan, tapi jauh dari cara agama/spiritual yang diajarkan oleh agama pada kita. Buku 7 Keajaiban Rizki tetap memiliki nilai lebih karena kita bisa menjadi kaya dengan bimbingan Allah, dengan menggunakan cara yang diajarkan oleh Allah pula. (ompra)

Ayo teman-teman kita dukung Sahabat Blogger dalam lomba resensi 7 keajaiban rezeki dengan cara kunjungi situs ini dan like http://www.rightbrainaward.com/


Terimakasih sahabat, atas Partisipasinya. Salam,
Ompra - Blogger Bojonegoro


NB: Artikel ini ditulis diikut sertakan dalam Lomba Resensi Buku “7 Keajaiban Rizki” yang diselengarakan oleh Rich Training dan TK Khalifah bekerjasama dengan Dompet Dhuafa dalam rangka menggalakkan budaya menulis nasional.

7.8.11

Menikmati Kesederhanaan

Sejak awal awal Ramadhan aku selalu melaluinya dengan sederhana. Sendiri, sepi dan berteman komputer dan buku. Sengaja itu aku lakukan sebab itu pilihanku. Tapi kesederhaan itu hanyalah kesederhanan yang tampak. Kegiatan yang sederhana, menu buku yang sederhana, menikmati buka juga dengan tanpa teman, sangat sederhana. Begitupun saat santap sahur, bahkan tak jarang aku hanya menikmati menu sahur dengan para penjual makanan di warung langgananku.

Dengan sederhana aku menerobos malam menykusk Kota Bojonegoro menuju warung-warung yang sudah buka sebelum waktu sahur tiba . Warung-warung sederhana yang ada di beberapa trotoar jalan utama. Dingin yang tak diharaukan. Pernah suatu kali aku keluar hanya membeli 3 potong tempe dan sebotel air minreal. Yaa.. sebab aku ingin melalui kesederhanaan ini. Aku juga pernah hanya makan sebungkus krupuk dan sepotong tempe sisa camilan sebelum tidur yang aku pakai untuk menjamu teman yang bermain.

Kondisi ini mungkin sangat berbeda untuk orang lain. Mereka menikmati gemerlap ramadhan dengan menu buka yang super special. Menikmati suasana kebersamaan ditengah keluarga dan teman-teman. Tentu dengan menu dan cara penghidangan yang khas ramadahan. Menikmati ngabuburit dengan orang-yang disayang juga menjadi agenda yang tak jarang di tinggalkan. Dan masih banyak hal lain yang dinikmati dengan tidak sederhana.

Tapi aku, yang tinggal di sudut kota bojonegoro ini sangat senang dan bangga dengan kesederhaan yang aku jalani. Semua sangat beralasan. Sebab dengan cara ini aku bisa menjalankan ibadah ini dengan tidak sederhana. Ya minimal itulah yang sangat ingin aku lakukan dan sekarang sedang saya upayakan untuk melaksanakan. Menjalankan hal-hal dunia dengan cara sederhana, dan menjalankan hal-hal spiritual dengan tidak sederhana.

Menurutku, kesederhanan itu akan sangat berefek pada ketidak sederhanaan. Kesederhanaan jasmani akan berbanding terbalik dengan rohani. Kesederhanan hodonis, materi, kesederhanaan yang namapak akan sangat berpengaruh pada ketidak sederhanaan yang yang tak namapak.

Aku percaya itu sebab menurutku, hakekat puasa adalah menyederhanakan, mengurangi, menjaga, menahan diri dari hal yang belebih yang berbau hedonis (baca: dunia) sehingga yang bersifat rohani, batiniyah bisa dikerjakan dengan tidak sederhana (berlebihan/glamor).

Apa yang gelamor, pasti ada pertanyaan seperti itu. Yang gelamor "ingin" aku lakukan adalah membaca buku, gelamor dalam bersyukur atas nikmat yang selama ini aku terima, gelamor dalam bermesraan dengan Allah dengan waktu yang panjang khususnya malam hari. Pun hal-hal lain yang tak perlu aku caritakan secara detaial yang sifatnya rohniah.

Itulah sederhana yang tak sesederhana untuk bisa dijalani. Aku berharap bisa menjalaninya.

Template by : kendhin x-template.blogspot.com