Berita Terpopuler

Showing posts with label Buku. Show all posts
Showing posts with label Buku. Show all posts

MARGENDUT SAYANG karya Prawoto R Sujadi

29.6.12 0 komentar

MANTRA CINTA PAWANG RINDU

Resensi Buku Kumpulan Puisi Margendut Sayang Oleh: Yonathan Rahardjo 


//di lubang telinga/ mesra terdengar/ menggetarkan asa,/ memenuhi perintah agama,/ menjadi ibadah kita bersama// katamu saat kau meng-iya-kan ku// (Puisi Meng-iya-kan). Puisi Prawoto R Sujadi ini menjadi bukti, setiap orang yang sedang pada puncak jatuh cinta akan mampu menuliskan puisi yang berenergi, bertenaga. Energi yang sama yang memampukannya menulis puisi sebegitu banyak dan semuanya tentang cinta baik dikatakan kepada yang dicintainya, kepada diri sendiri, kepada orang lain.
…//terserah kalian akan mengatakan apa/ aku hanya menulis/ merangkai kata/ semua mengendap begitu saja/ dalam rasa dan logika// ...//merangkai kata adalah seni/ ini adalah seni mengungkapkan/ini adalah seni menyampaikan// ini caraku,/ silahkan saja cara mu (kalian) sendiri/ jika kau suka nikmati saja.// (Puisi Jalan Pulangku). Puisi ini dituliskan Prawoto R Sujadi untuk orang lain itu, bukan untuk dirinya sendiri atau untuk kekasihnya yang membuatnya berenergi kuat dalam cinta mereka. Bahwa, ia sudah memilih jalan puisi untuk mengekspresikan hakekat jajaran utama hidupnya. Pernikahan atas dasar cinta, adalah hal terbesar bagi diri semua orang termasuk Prawoto, kedua setelah pengakuan iman agamanya yang dimulai dari pengakuan terhadap Tuhannya.
//Lewat kata dan doa/ kau menjadi "pawang hujan"// (Puisi Batu & Air). Pawang hujan, dua kata satu makna dari puisi Prawoto R Sujadi ini saya yakini menjadi pintu masuk "menuju kredo"-nya dalam berpuisi -sebagai jalan hidupnya- dengan berdoa laksana mantra yang diulang-ulang dalam banyak puisi yang berbeda dengan pengungkapan isi hati yang sering sama dalam gaya yang sama atau mirip.
Saya mengatakan itu "menuju kredo", menuju konsep berkesenian dia, karena memang itulah yang dilakukan dengan intensif tanpa kenal menyerah oleh Prawoto. Ia menulis semua isi hati dan pikirannya (rasa dan logika-nya) tentang kekasihnya dan hubungannya dengan kekasihnya yang dalam buku kumpulan puisi ini dipanggilnya dengan nama kesayangan Margendut. Rasanya, impresinya, kenangannya, rindunya, kegelisahannya, kebahagiaannya, senyumnya, tatapan matanya, mesranya, manjanya, airnya, batunya, dan banyak lagi kesamaan yang diulang dalam puisi beda.
Selain kesamaan gaya, pemilihan kata, tema, juga judul. Dari judul saja ada 11 judul puisi yang menyebut kata Rindu: Berbalut Rindu, Angin Rindu, Energi Rindu, Deru Rindu, Rindu Bersamamu, Terpasung Rindu, Memadu Rindu, Aliran Rindu, Pelengkap Rindu, Ada Rindu, Kutitipkan Rindu. Boleh saja Prawoto tidak menyadari hal ini, bahwa diksi atau pilihan katanya banyak merujuk pada kata-kata yang sama itu. Boleh jadi pula, sama demikian halnya dengan pesan yang disampaikan. Sangat kontekstual bila munculnya kata dan pesan yang dipilih secara sama oleh karena suasana hatinya yang serba sama berkat rasa cinta yang berbunga-bunga, kasmaran, sebagai dua sejoli yang sedang mabuk eros menuju jenjang pelaminan.
Bagaimana dengan kata ”Cinta”? Tidak harus diverbalkan dalam kata cinta, jelas semua puisi dalam buku kumpulan puisi ini adalah puisi cinta. Wujudnya dan tanda-tandanya dapat macam-macam, dengan berbagai pilihan kata tadi, juga peristiwa-peristiwa, latar, rasa yang berjuta. Namun kata cinta itu juga bertabur dalam tubuh puisi-puisinya. Sedang dari judulnya saja, yang mengandung kata cinta ada 8 puisi: Memulai Cinta, Hujan Cinta, Rona Cinta, Lukisan Cinta, Tentang Cinta, Ikatan Cinta, Pohon Cinta, Menyapa Cinta,
Boleh kalau Sutardji Calzoum Bahri terkenal dengan puisi mantranya oleh karena penggunaan kata yang diulang-ulang dalam tiap puisi dan membebaskan kata dari makna dan makna dari rangkaian kata yang menjadi mantra. Boleh juga kan kalau secara subyektif saya menyebut puisi-puisi yang doa Prawoto dalam buku ini adalah mantranya, malah mantra bersambung. Mengapa mantra bersambung?
Memang, mantra dalam puisi Prawoto bukan seperti mantra dalam puisi Sutardji yang membebaskan kata dari makna dan mencipta dadaisme sebagai akar dari pengucapan ─yang sangat terasa dari kata dan ucapan yang mirip yang diulang-ulang dalam satu puisi, baik yang berarti maupun tidak─. Namun kalau semua puisi Prawoto dalam buku ini dibaca secara langsung berurut atau bersambungan dia sudah menjadi mantra oleh karena terasa pengulangan-pengulangannya baik kata, isi, pesan, maupun temanya. Selain contoh yang bertabur tadi, ambil contoh lain pengulangan tentang air dan batu yang diungkap puisi "Memulai Cinta" (seperti dikutip di atas) dalam puisi lain: …//Kau “BATU” .../ Aku “AIR” ...// kau membatu, ku kan mencair// (Puisi Batu & Air)
Adapun sebagaimana banyak penyair yang cenderung menulis secara liris ala Sapardi Djoko Damono, Prawoto pun ada kalanya mengungkap kata yang menuju liris atau curahan perasaan dalam puisi-puisinya. //Aku air/ yang kan melerak/ masuk dalam ragamu/ Kau batu/ membuatku tegar dan menguatkan// (Puisi Memulai Cinta). Atau dalam puisi "Memainkan Nada" // Aku adalah biola/ engkau adalah dawainya/ siang dan malam menjadi penggesek/ mengalunkan nada kedamaian/ mengalir seirama angin/ dalam lakon kehidupan//.
Namun puisi-puisi Prawoto R Sujadi tidak menjurus kepada penciptaan imaji oleh curahan hati semata. Ia juga memainkan logika atau pikiran. Imaji yang tercipta pun tidak laksana imaji yang dicipta Sapardi dengan puisi lirisnya yang maestero. Permainan sintaksis (susunan kata untuk membentuk makna dan suasana) puisi Prawoto pun tarik menarik antara pun curahan hati dan pikiran. Bahkan itu disadarinya sendiri dengan menuliskannya dalam banyak puisinya selain "Puisi Jalan Pulangku". Contohnya dalam puisi "Memadu Rindu" …//bermodal hati, menabung pikiran/ dalam sikap dan tindakan/ mencipta senyum yang takkan terlupakan//…, dan banyak puisi lain.
Dalam puisi "Di Ujung Perang", Prawoto R Sujadi menulis: …//senjataku adalah prinsip/ perisaiku adalah penghormatan/ jurusku adalah cinta/ kesaktianku adalah saling bicara//….  Agaknya di sini kunci untuk membuka pintu masuk “menuju kredo”-nya dalam berpuisi di atas. Kalau Prawoto mengatakan kekasihnya (yang “batu”) adalah ”pawang hujan” karena ia (Prawoto) ”air”, maka soal rindu dan cinta, Prawoto adalah “pawang rindu” yang “berjurus cinta”. Karena jurus cinta ini diwujudkan dalam kesaktiannya (saling bicara) yang tak lain adalah puisi yang menuju kredo “mantra bersambung”, maka sesungguhnya cinta itulah mantranya.
Mantra ini akan selalu diucapkan Prawoto dalam puisi-puisinya yang selanjutnya terutama dalam puisi hidup-nya dalam wujud cinta kasih suami istri dalam bahtera rumah tangga. Maka makin jelas makna “Mantra Cinta Pawang Rindu” ini dirasakan dengan membaca puisi untuk Margendut-nya, yang ternyata punya nama asli yang sangat manis pencipta segala rindu Prawoto. Ini ada dalam puisinya yang berjudul “Sela” ...//detik bersela, detik, ada sela/ namamu lalu detik, sela, detik,/ dan namamu tercipta/ ada di antara detik/ sela, detik//...
Dan mantra itu akan terus menjadi doa seperti ditulis Prawoto R Sujadi dalam puisi ”Perjalanan Doa” //di sudut hati/ ada namamu yang terus saja melekat/ untuk waktu dan  demi masa,/ yang terus saja melaju/ aku dan kamu/ merencana dalam sketsa/ Semua telah ditulis Sang Esa// ku telah berusaha/ menyebutmu dalam perjalanan doa// Shellalizha...Shellalizha... *

Sumber: http://resensi-buku.blogspot.com/2011/12/judul-buku-13-perempuan.html


 



Bumi Manusia, Akhirnya Aku Jatuh Cinta

6.11.10 0 komentar
Setelah sekian lama, aku baru sempat membaca karya Pram. Baru Sempat, bukan karena apa-apa, hanya kata "Baru Sempat" itulah yang pas untuk menceritakan mengapa saya baru bisa membacanya. Sampai-sampai kata itu menjadi akhiran dari nama account FB-ku, "Prawoto Baru Sempat".

Lewat seorang teman, Anas Abdul Ghofar namanya, aku mendapatkan buku tersebut. Sekian tahun silam, adek angkatku pernah bercerita tentang buku-buku dari Pram. Waktu itu aku tidak tertarik sama sekali. "Apa sich yang menarik dari buku-buku Pram," pikirku waktu itu. Walau Putri, begitulah aku memanggil adikku, tidak secara langsung menyuruhku membaca. Dia bercerita tentang kekagumannya pada karya-karya Pram. Itu terjadi saat dia kelas 3 SMA, sekitartahun 2004. Aku 3 tahun lebih tua dari putri. Entah buku apa yang dia baca saatitu, gadis cantik itu hnay bercerita tentang kekagumannya pada karya pram. Seingatku dia tidak pernah memberitahukan tentang judul buku yangia baca.

Semenjak bergabung dengan "Sindikat Baca"-komunitas suka baca- aku baru mengerti tentang karya-karya Pram. Dua sahabatku -Anas dan Nanng- sering bercerita tentang buku-buku sastrawan asal Blora ini. Waktu itu, Nanang bercerita tentang buku Bumi Manusiayangbaru saja ia baca. Dia juga keranjingan buku-buku Pram. Sejak kuliah dia tidak suka membaca sastra, maklum anak kumunikasi, sukanya membaca filsafat. "Aku juga baru suka membaca sastra setalah akran dengan Anas kok", kelakar Nanang saat ngopi di rumah perumda.

Panjang memang ceritanya, bagaimana akhirnya aku suka membaca buku-buku Pram. Jujur, aku berterima kasih pada 2 orang sahabatku dan adekku yang yang menjadikan aku suka mebaca buku-buku tersebut. Walaupun mereka mungkin tak pernah menyadarinya. Ternyata, untuk menyukai sesuatu, kadang dibutuhkan waktu lama bahkan beberapa tahun. itu yang aku alami hingga akhirnya aku jatuh cinta pada karya-karya Pram. Sastrawan yangtempat lahirnya tidak jauh dari tempat kelahiranku.

Buku Bumi Manusi (1980,1981) adalah buku pertama dari tetralogi Buru. Ketiga buku lainnya adalah Anak Semua Bangsa (1981; 1981), Jejak Langkah (1985; 1985), Rumah Kaca (1988; 1988). Tetralogi Buru atau Tetralogi Pulau Buru atau Tetralogi Bumi Manusia adalah nama untuk empat novel karya Pramoedya Ananta Toer yang terbit dari tahun 1980 hingga 1988 dan kemudian dilarang peredarannya oleh Jaksa Agung Indonesia selama beberapa masa.

Tetralogi Buru ini mengungkapkan sejarah keterbentukan Nasionalisme pada awal Kebangkitan Nasional, dan pengukuhan atas seorang yang bernama Tirto Adhi Soerjo yang digambarkan sebagai tokoh Minke. (sumber: wikipedia)

Buku ini sangat perlu di baca oleh generisi saat ini. Menurutku buku ini wajib dibaca supaya tahun tentang Indonesia jaman dulu. Buku ini juga bisa meningkatkan semangat nasionalismu, kecintaan terhadap tanah air. Paling tidakitulah yang saya rasakan setelah usai membaca Bumi Manusia.

Inilah cerita singngkat Bumi Manusia:
Buku pertama tetralogi pulau Buru Pramoedya Ananta Toer ini bercerita tentang perjalanan seorang tokoh bernama Minke. Minke adalah salah satu anak pribumi yang sekolah di HBS. Pada masa itu, yang dapat masuk ke sekolah HBS adalah orang-orang keturunan Eropa. Minke adalah seorang pribumi yang pandai, ia sangat pandai menulis. Tulisannya bisa membuat orang sampai terkagum-kagum dan dimuat di berbagai Koran Belanda pada saat itu. Sebagai seorang pribumi, ia kurang disukai oleh siswa-siswi Eropa lainnya. Minke digambarkan sebagai seorang revolusioner di buku ini. Ia berani melawan ketidakadilan yang terjadi pada bangsanya. Ia juga berani memberontak terhadap kebudayaan Jawa, yang membuatnya selalu dibawah.

Selain tokoh Minke, buku ini juga menggambarkan seorang "Nyai" yang bernama Nyai Ontosoroh. Nyai pada saat itu dianggap sebagai perempuan yang tidak memiliki norma kesusilaan karena statusnya sebagai istri simpanan. Statusnya sebagai seorang Nyai telah membuatnya sangat menderita, karena ia tidak memiliki hak asasi manusia yang sepantasnya. Tetapi, yang menariknya adalah Nyai Ontosoroh sadar akan kondisi tersebut sehingga dia berusaha keras dengan terus-menerus belajar, agar dapat diakui diakui sebagai seorang manusia. Nyai Ontosoroh berpendapat, untuk melawan penghinaan, kebodohan, kemiskinan, dan sebagainya hanyalah dengan belajar. Mingke juga menjalin asmara dan akhirnya menikah dengan Anneliesse, anak dari Nyai Ontosoroh dan tuan Millema.

Kisah asmara Minke dengan Anneliessemenjadi cerita yang marik dan unik untuk di simak. bagaiman awal mereka jatuh cinta dan mengapa mereka jatuh cinta,karena apa merek ajatuh cinta. Ketika mereka jatuh cinta, timbul permasalahan. Konflik batin, konflik sosial. Di dirumah di sekolah, minke mendapat masalah ketika mengenal keluarga "Nyai". Minke memang seorang pemuda yang benar-benar tidaklari dari masalah. Ia hadapi semua permasalhannya, seperti yang di pesankan ibundanya. Seorang laki-laki pantang untuk lari dari masalah, selesaikan masalahmu dengan muka tegak.

Melalui buku ini, Pram menggambarkan bagaimana keadaan pemerintahan kolonialisme Belanda pada saat itu secara hidup. Pram, menunjukan betapa pentingnya belajar. Dengan belajar, dapat mengubah nasib. Seperti didalam buku ini, Nyai yang tidak bersekolah, dapat menjadi seorang guru yang hebat bagi siswa HBS dan Minke. Bahkan pengetahuan si nyai itu, yang didapat dari pengalaman, dari buku-buku, dan dari kehidupan sehari-hari, ternyata lebih luas dari guru-guru sekolah HBS.

Tragis memang, diakhir cerita Minke harus berpisah dengan Anneliesse, istri tercintanya. Anneliesse dipaksa untuk pergi meninggalkan Indonesia oleh saudara tirinya. Gadis cantik dalam keadaan memprihatinkan haru berpisah dengan laki-laki yang sangat dicinta dan berpisah pula dengan Ibu yang selam ini meberinya kehidupan. Sebagai suami sah, dan sebagai ibu kandung mereka tidak bisa berbuat apa-apa atas putusan pengadilan. Mengapa demikian. Silahkan Baca...

Anda tertarik, silahkan membacanya.
Salam, Sindikat Baca"Boleh Gaya Asal Suka Baca"

CBH, Sindiran Untuk Para Pejabat di Negeri Ini

20.6.10 0 komentar

Judul Buku
Ciuman di bawah Hujan
Penulis
Lan Fang
Penerbit
PT. Gramedia Pustaka Utama - Jakarta
Cetakan
Pertma, Maret 2010
Tebal
360 Halaman
Oleh:
Prawoto



-Maka bila Ciuman di Bawah Hujan sampai di tanganmu, semoga kau percaya ini adalah suatu “Kebetulan yang bukan kebetulan”. -


Itulah kalimat yang di tulis Lan Fang pada “Bebuka” yang langsung menyita perhatian saya. Kata “kebetulan” inilah yang mengantarkan saya sehingga mendapatkan novel tersebut.

Ceritanya begini, sebelum arisan buku yang dilaksanakan oleh sindikat baca, saya pernah ngobrol dengan dua orang teman, Nanang dan Anas. Keduanya adalah pekerja jurnalistik. Berbincang tentang kegiatan membaca, kegiatan sastra, menulis, pengarang buku dan novel. Kebetulan kami sudah berteman agak lama. Obrolan kami semakin cair. Sampailah Anas bercerita tentang beberapa temannya yang sering menulis novel. Kebetulan Anas bercerita pula tentang Lan Fang. Kebetulan pula Lan Fang pernah pentas Teater di Komunitas Suket – Boureno yang di kelolonya. Temanku ini juga juga bercerita bahwa Lan Fang punya novel baru yang dimuat pada harian kompas sebagai cerita bersambung sejak oktober 2009 – Februari 2010.

Pada Minggu 4 April 2010, Kebetulan, saya membeli Jawa Pos dan Kebtulan membaca berita halaman 6 kolom ke-2 judulnya “Ciuman di Bawah Hujan”. Saya ingat cerita kami bertiga tempo hari. “Menarik juga novel ini,” pikirku usai membaca berita tersebut. Pada arisan buku, Kebtulan aku keluar sebagai pemenang untuk kali pertama. Tiba ingat "Ciuman di Bawah Hujan-nya si Lan Fang. Entah mengapa ingat hal itu, mungkin karena judulnya mengandung kata “Ciuman” yang mudah sekali diingat oleh setiap orang. Kebetulan aku punya teman yang bekerja di Surabaya, setiap Sabtu pasti pulang ke Bojonegoro. Namanya Danny, segera saja aku SMS untuk minta tolong dibelikan novel tersebut. Kebetulan sekali novel itu ada di salah satu toko buku di Surabaya. Dany pulang ke bojonegoro, sampailah "Ciuman di Bawah Hujan" di tangan saya.

Carl Gustav Jung, Psikolog Swiss yang menganalisis alam bawah sadar manusia mengatakan bahwa manusia terhubung dengan manusia lain melalui kebetulan-kebetulan. “Kebetulan” itu bisa mewujudkan diri dalam berbagai macam bentuk. Misalnya, munculnya seseorang atau sesuatu pada saat kita membutuhkannya. Kesadaran atas kebutuhan itu bisa langsung dirasakan seketika itu juga. Atau bisa juga terus menggelinding dalam kerangka rencana yang belum kita ketahui. Ia menyebutnya sebagai konsep sinkronitas.

Itulah yang di tulis Lan Fang pada “Bebuka” Novel Ciuman di Bawah Hujan. Novel ini ditulis melewati lompatan-lompatan kreatif dari satu kebetulan kepada kebetulan yang lain. Saya pun mendapatkan novel ini juga melalui lomptan-lompatan Kebetulan hingga akhirnya sampai di tangan saya.

Pada CBH (Ciuman di Bawah Hujan, red) anda akan diajak berpetualang dalam imajinasi yang dipenuhi unsur kebetulan. Dibandingkan dengan novel karya Lan Fang sebelumnyua, CBH agak berbeda. Lan Fang membangun CBH dengan menggunakan setting politik. CBH bercerita tentang Ari, Politisi bermata Matahari, yang tak pernah mampu menangkap asap. Sementara tokoh Rafi, digambarakan sebagai politisi berkaki angin yang terjebak basah gerimis. Dan tentang Fung Lin, yang menantikan laki-laki yang akan menciumnya di bawah hujan.

CBH di dominasi oleh cerita-cerita yang diangkat dari setting dunia politik. Sepertinya Lan Fang mempresentasikan pengamatannya dalam praktik politik praktis selama pemilu 2009 mulai pilbub, pilgub, pilleg dan pilpres, yang semuanya dianggap penuh kebohongan dan caci maki. Dalam CBH, Anda akan mendapatkan cerita yang dibangun dari suasana politik yang penuh kebohongan dan caci maki, tetapi masih santun dengan bungkus kalimat sastra yang mempesona, menarik dan memiliki gaya bercerita yang khas. CBH adalah bentuk kritik politik, kritik sosial dengan pendekatan dan intepretasi kejadian nyata yang selama ini terjadi dalam dunia perpolitikan di Indonesia. Dengan rasa setia kawan, tanggung jawab, pengorbanan kerinduhan dan pengharapan CBH menerabas dunia politik, dunia yang tanpa ampun.

Dunia anak-anak juga ditulis oleh Lan Fang sebagai objek cerita. Anak-anak dengan segudang permainan, kepolosan, keinginan mencoba-coba juga di tulis detail sebagai bentuk sindiran tehadap kaum pejabat di negeri ini. Bagaimana Mamanya Fung Lin menghukum anaknya ketika mencuri jeruk. Cara menghukum yang sangat mendidik dan mungkin sangat jarang di lakukan oleh orang tua. CBH juga bercerita tentang permainan layang-layang. Yang kadang ditarik dan kadang diulur. Itulah peribahasa yang digunakan untuk menyindir permainan politik di negeri ini.

Cerita tentang binatang juga ditulis Lan Fang. Kisah tikus bersama Fung Lin. Tikus-tikus got, yang suka makan makanan basi, tempat-tempat gelap dan bau. Semua ditulis sebagai simbol sindiran, kritik untuk kondisi yang saat ini terjadi di indonesia. Sindiran untuk para politisi, koruptor -koruptor yang melenggang Nusantara ini. Pembaca akan semakin terhentak dengan imajinasi Lan Fang yang menceritakan tentang 2 Hamster yang lucu, yang melahirkan 40 anak yang diberi nama Tatang dan Titin. Hamster lucu, dengan hidung yang berwarna, bulu yang bersih hadiah dari Rafi untuk Fun Lin. Tetapi setelah melahirkan 40 anak, Titin (hamster betina, red) memakan mentah-mentah ke-40 anaknya. Ini bentuk sindiran dalam dunia politik . Cerita ini semakin menambah seru karena Fun Lin takut, Rafi akan dimakan mentah-mentah atau memakan mentah-mentah teman politiknya sendiri.

Pelajaran lain yang bisa kita tarik dari novel ini untuk dunia pendidikan adalah semangat menulis Fung Lin, dan semangat menulis Ngatinah. Bahwa segala sesuatu bisa dijadakan objek untuk menulis. Siapapun itu dan apapun itu, semua bisa menulis. Menulis dengan rasa dan logika akan menjadi indah untuk dibaca orang lain. Guru Bahasa Indonesia perlu mengajak murid-muridnya untuk membaca novel ini, dan mengajak muridnya selalu menulis.

Prawoto - 081931002004
3 Mei 2010, Rumah Dinas SMAN 2 Bojonegoro - Sambil memikirkan “Margenuk”

Catatan:
Tulisan ini juga di terbitkan di buletin Baca! Edisi Juni 2010.

 
CAKRAWALA KEHIDUPAN © 2012 Development Fauns